Hubungan manusia dengan uang bukan hanya soal angka, tapi juga soal kebiasaan, emosi, dan trauma. Itulah sebabnya konsep psikologi keuangan perlu masuk dalam pola pengasuhan anak sejak dini.
Psikologi khusus keuangan juga penting untuk anak, agar pertumbuhannya tetap baik serta punya hubungan yang sehat dengan uang. Jadi jika tidak tahu bagaimana pentingnya konsep ini serta strategi penanamannya dalam pola asuh, maka bisa berdampak jangka panjang.

Anak Meniru Kebiasaan Finansial Orang Tua
Para orang tua harus paham bahwa anak adalah peniru ulung. Apa yang orang tuanya lakukan, pasti akan diikuti baik secara sadar maupun tidak. Hal ini juga berlaku pada bagaimana cara orang tua mengelola keuangan yang akhirnya bisa menjadi contoh anak.
Ada beberapa contoh penerapan psikologi keuangan berupa ungkapan yang memengaruhi anak. Misal kalimat “kita tidak mampu”, atau bisa juga “tinggal gesek kartu”. Keduanya terlihat sepele, tapi bisa berpengaruh negatif terhadap alam bawah sadar.
Apabila anak tidak punya bekal psikologi uang yang matang, maka kalimat-kalimat itu hanya akan menjadi sumber trauma di masa depan. Oleh sebab itu, perlu adanya perubahan money mindset yang harus berakar dari orang tua dulu.
Pentingnya Psikologi untuk Keuangan bagi Anak
Psikologi keuangan memang sangat penting untuk anak, khususnya dalam proses memahami kepuasan tertunda. Saat fondasi pemahaman keuangan sudah baik, maka anak bisa lebih tenang dalam mengambil keputusan bahkan untuk hal-hal yang belum bisa didapat.
Selain itu, konsep struktural ini juga bisa mencegah anak tumbuh menjadi pribadi yang materialistis. Meski saat kecil belum terlihat, tapi kondisi anak yang mengukur segala aspek dengan uang bisa menjadi boomerang di masa depan.
Keputusan anak dalam mengambil keputusan finansial yang bertanggung jawab saat dewasa juga berakar dari sini. Anak tidak akan langsung bisa mengambil keputusan finansial yang baik jika tidak ada dasar matang sejak dini.
Strategi Menanamkan Psikologi Khusus Keuangan
Pola pengasuhan anak akan berbeda untuk tiap individu, dan hal ini juga berlaku pada strategi menanamkan psikologi soal keuangan. Pastikan strateginya sesuai dengan kapasitas kognitif anak. Sedangkan untuk pembagian rentang usianya sebagai berikut:
1. Usia Balita
Penerapan psikologi keuangan bisa dimulai saat anak masuk usia balita, antara 2-5 tahun. Pada tahap ini, fokus utama dari proses belajar adalah mengenalkan keberadaan uang terlebih dahulu.
Metodenya bisa melalui bermain peran seperti pasar-pasaran, mengenalkan bentuk fisik uang, atau membuat celengan transparan. Anak juga perlu belajar konsep menunggu untuk melatih kesabaran mendapat sesuatu.
2. Usia Sekolah Dasar
Saat anak sudah masuk usia sekolah dasar atau antara 6-12 tahun, konsepnya berubah menjadi pemahaman nilai dan pilihan. Fokusnya lebih pada mengajarkan prioritas dan konsekuensi pilihan.
Pilihan metode untuk usia ini juga banyak. Bisa dengan memberikan uang saku berkala sampai memberikan dampak keputusan saat kehabisan uang karena boros. Diskusi aktif soal kebutuhan vs keinginan juga bisa berjalan di tahap ini.
3. Usia Remaja
Saat sudah masuk usia remaja antara 13-18 tahun, prinsip mengelola uang bisa mulai diterapkan. Fokusnya di tahap ini adalah bisa bertanggung jawab penuh dan melakukan perencanaan logis sesuai kebutuhannya.
Anak bisa mulai dipercaya memiliki rekening bank sendiri, merencanakan anggaran sendiri, sampai ajaran untuk transparansi terhadap keluarga. Pengenalan investasi juga penting di tahap ini agar alokasi keuangannya semakin terarah.
Penutup
Pada dasarnya, warisan terbaik orang tua bukanlah tumpukan harta, tapi jiwa yang bijak dalam pengendalian finansialnya. Oleh sebab itu, psikologi keuangan penting masuk dalam pola pengasuhan sejak dini agar prinsipnya terbentuk dengan baik.

Berbagi wawasan seputar parenting, pendidikan anak, dan literasi keuangan keluarga.
