Family Budget sebagai Dasar Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga

Banyak orang yang merasa pemasukan keluarganya besar, tapi saat akhir bulan sudah tidak ada sisa dengan pencatatan yang jelas. Jika sudah demikian, artinya family budget tidak tertakar dan terstruktur dengan baik.

Kondisi seperti itu menjadi indikator perbaikan agar tidak berpengaruh jangka panjang ke masa depan. Namun untuk dasar pengelolaannya sendiri juga tidak bisa selesai di satu orang, karena semua anggota keluarga harus punya komitmen yang sama.

Fondasi Menyusun Anggaran Rumah Tangga

Untuk membangun manajemen keuangan keluarga yang baik, maka harus ada fondasi yang kuat. Soal budget keluarga ini harus berdasarkan kesepakatan bersama dan dengan asas transparan serta jujur.

Tabu komunikasi dalam pernikahan soal finansial harus dibuang agar tidak ada pengeluaran rahasia. Kemudian untuk anggarannya juga harus bersifat dinamis, menyesuaikan fase kehidupan keluarga baik saat baru menikah atau saat sudah punya anak.

Semua fondasi itu harus menjadi acuan pembentukan budget keluarga, yang mana nantinya akan berfungsi sebagai dasar pengelolaan keuangan. Tanpa fondasi ini, maka aspek finansial bisa menjadi masalah baru dalam keluarga.

Langkah Menyusun Budget Keluarga Terukur

Untuk mulai menyusun family budget, ada beberapa tahapan yang wajib berjalan. Masing-masing tahapan juga saling berkaitan sehingga tidak boleh terlewat. Berikut langkah-langkahnya:

1. Hitung Pendapatan dan Pengeluaran

Pertama hitung dulu pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Semua dana yang masuk dan yang keluar barang sekecil pun tidak boleh ada yang terlewat. Jika takut terlewat atau salah hitung, maka bisa memanfaatkan jajaran aplikasi pencatatan keuangan.

Pastikan juga untuk mengklasifikasikan pos pengeluaran rumah tangga dengan baik. Mana yang rutin bulanan, mana yang wajib, dan mana pengeluaran tambahan. Klasifikasi ini bisa menjadi kunci untuk menentukan anggaran ke depan.

2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Agar family budget bisa terukur, maka pastikan untuk membedakan mana yang kebutuhan dan keinginan. Buat batasan yang tegas untuk seluruh anggota keluarga agar tidak ada biaya yang keluar hanya untuk memenuhi gengsi.

Biasanya keinginan kecil menjadi penyumbang bocor halus hingga pengeluaran membengkak. Untuk meminimalisir hal ini, catat saja semua keinginan kecil tapi rutin agar nantinya bisa tahu apa yang masuk prioritas.

3. Pantau dan Evaluasi

Meski sudah melakukan pencatatan, strategi menabung untuk keluarga tidak akan berhasil tanpa adanya proses evaluasi. Data untuk evaluasi ini berasal dari catatan sebelumnya yang sudah lengkap.

Pada proses evaluasi dan diskusi ini, maka penentuan anggaran keluarga bisa muncul dan disepakati bersama. Pos-pos keuangan juga harus tertata dengan baik beserta besaran nominal yang jelas.

Alokasi Proporsional untuk Anggaran Keluarga

Salah satu contoh alokasi proporsional untuk family budget adalah penggunaan metode 50/30/20. Pada metode ini, 50% akan teralokasikan pada kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar.

Lalu 20% mengarah ke investasi, asuransi, dan tabungan darurat. Sedangkan 30% sisanya bisa pada keinginan, self reward, dan hiburan. Angka ini juga bisa dikurangi lagi jika alokasinya dirasa terlalu besar.

Itu hanya satu contoh metode saja. Pada dasarnya masih banyak contoh alokasi yang pas untuk anggaran keluarga. Sesuaikan sendiri dengan kebutuhan, tapi tetap mengedepankan kebutuhan pokok, investasi, dan dana darurat.

Penutup

Family budget bukan dibentuk untuk mengekang kebahagiaan. Justru dengan adanya anggaran yang jelas, maka kebebasan finansial di masa depan bisa tercipta dan kondisi membahayakan untuk keluarga tidak terjadi.